Teras

My Photo
buklethapmas
Melihat orang bertingkah aneh dan bodoh itu menyenangkan; hiburan yang tak ternilai. Menyampahi dan mengkritik menjadi bumbu penyedap. Setidaknya, hal itu menjadi pelampiasan dan penghilang rasa kebosanan di tengah-tengah ketidakgerakan dan keluhan dari mulut-mulut orang yang tidak berbuat apa-apa. Daripada menderita sendiri karena kesadaran yang memuakkan ini, lebih baik menikmati semati-matinya, keluarkan semua umpatan ketidaksenangan itu! Umpat kami, kami umpat pula kalian! "Ayo kita mengangkat wacana sampah, umpat-mengumpat, dan kritik omong kosong!"
View my complete profile

Blog

05 October, 2011

identitas?

Masih, pada terbitan ketiga Buklethapmas mengangkat isu tentang mahasiswa baru. Terus berbicara tentang kerentanan identitas. Semua saling bersembunyi memegang pemikiran sendiri, saling 'mengkritik' seperti kami. Gosip, juga berbicara tentang identitas. Akan tetapi, identitas bukan dilihat dari image.

Silakan mengunduh terbitak ketiga Buklethapmas [di sini]!
Read more

24 September, 2011

Kita terus mengingatkan

Kehadiran Buklethapmas memang sebagai kritik, yang mencoba untuk terus mengingatkan agar kita semua sadar untuk tidak terjebak dalam lingkaran kekeliruan. Namun demikian, kami juga tidak lepas dari kritik itu sendiri; kami juga mengharapkan kritik balik dari pembaca sekalian agar tidak terjebak dalam lingkaran yang sama. Oleh sebab itu, kita semua harus terus saling mengingatkan satu sama lain.

Minggu ini kami kembali menyebarkan buklet cetak ke-2, yang masih bertemakan tentang mahasiswa baru. Beberapa tulisan yang tercantum di dalamnya, lebih-kurang, merupakan opini/prediksi/catatan pengalaman para penulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan fenomena awal kuliah dan mahasiswa baru. Dalam edisi Vol. I, No. 02 itu, kami membubuhkan sehalaman gambar cerita yang dibuat oleh seorang rekan yang juga mendukung gerakan ini. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan, semoga bantuan dan dukungan dapat terus berlanjut agar bisa memunculkan manfaat bagi kita semua.

Selamat mengunduh, dan selamat membaca! 

Silakan unduh buklet cetak di [link ini]
Read more

16 September, 2011

Gerak serentak antara yang di lembaran dan yang di layar

Kata seorang profesor, media di waktu sekarang sudah terlalu canggih! Tak mampu lagi bagi kita, generasi sekarang yang buntu imajinasi, untuk menggambarkan cairnya media dalam beragam bentuk dan cara: dari yang tintanya dawat hingga tintanya elektronik. Mungkin, generasi setelah kita, yang apabila berhasil meruntuhkan tembok kebuntuan itu, dapat memberikan gambaran detil tentang fenomena media-media yang mutakhir tersebut. Saat ini tugas kita adalah lebih kepada meningkatkan kesadaran akan keganasan limpahan berita dari berbagai media online (contohnya, lihat saja twitter dan detik.com, dengan adanya dua media ini saja, bahkan kita tak sempat memilah kabar karena setiap detik kabar baru yang lain bermunculan).

Ada banyak mahasiswa, akhir-akhir ini, atau anak muda yang lainnya, seringkali membubuhkan opini, data dan fakta, naskah pidato dan orasi, dan aksi-aksi propaganda lainnya melalui media maya alias internet itu. Memang, media yang satu ini bergerak cepat (kita masih ingat bagaimana gerakan satu juta facebooker dan sebagainya dalam mengkritik kebijakan pemerintah). Namun demikian, Buklethapmas merasa cara seperti ini belum mampu untuk membangkitkan gairah romantisasi dari gerakan menggunakan media itu sendiri. Bukan soal cepat atau lambat, tetapi bagaimana menikmati tindakan-tindakan menggelitik pemikiran pihak lain itu dengan cara yang mengasyikkan untuk disaksikan secara langsung, riil dengan mata kepala sendiri, bukan melalui perantara dunia maya.

Atas dasar alasan itu lah, Buklethapmas kembali ke media konvensional (dengan materi konkret yang bisa digenggam dan berjarak lebih dekat). Dengan demikian, Buklethapmas edisi cetak dalam bentuk lembaran kertas A4 diciptakan.

Namun begitu, kita tidak memungkiri kecanggihan dunia maya alias internet ini. Karena keterbatasan finansial dari Buklethapmas sendiri (yang pada hari pertama hanya mampu mengeluarkan 100 eksemplar―dan itu pun habis terbuang dan tercecer di lantai lingkungan kampus, tanpa ada kepastian telah dibaca atau tidak oleh warga kampus), kami tetap mendayagunakan media online ini untuk melakukan distribusi secara cuma-cuma.

Pembaca dapat mengunduh file dari terbitan edisi kertas yang telah disebarkan di lingkungan kampus FISIP UI pada hari Kamis, tanggal 15 September 2011 lalu. Selamat membaca dan silakan sebarkan untuk kepentingan gerakan "menghidupkan kembali budaya membaca dan perang wacana".

[Link unduhan]
Read more

31 August, 2011

Refleksi di Bulan Fitri...?


Sekarang daerah ini seperti kota mati. Memang, masih ada beberapa kendaraan yang melintas, tetapi tidak berseliweran seperti hari-hari biasa. 

Lebih dari setahun yang lalu, Bulan Mei 2010 tepatnya, seorang mahasiswi UI menuliskan tentang cerminan diri atas kejadian-kejadian yang dialaminya dalam sehari. Mulai dari kegiatan mentoring bersama kawan sejawat hingga tugas berkeliling pasar dengan tujuan mempelajari kehidupan masyarakat untuk meningkatkan kepekaan terhadap sesama. Apa yang menarik dari tulisannya ialah tentang kata kerelaan: satu kunci bagi keterbukaan pikiran kita agar dapat mengabdikan diri menjadi 'pelayan' orang lain, dan dengan demikian kata pengorbanan menjadi hal yang utama. Kesejatian untuk rela berkorban lah cara yang paling ampuh untuk mendapatkan kemurnian atas kebahagiaan. 

Apakah pendapat si mahasiswi jelita itu benar? Mungkin ia menjadi satu pemikiran yang baik, meskipun begitu ia tidak sepenuhnya benar, jika harus dihadapkan dengan sebuah prinsip yang terlontar dari mulut seorang mahasiswa, beberapa bulan yang lalu, "Ketika kita berusaha membuat semua orang senang, kita gagal!" 

Pertentangan samar antara dua pendapat itu kemudian menghantarkan kita pada soal pilih memilih, dan tentunya, setiap pilihan membawa satu konsekuensi yang, mau tidak mau, harus dihadapi. Pada titik itu lah kita membutuhkan satu keyakinan dengan apa yang kita percaya: tidak perlu lagi sibuk dengan perang pendapat, mempersoalkan kebenaran mutlak atas sebuah argumentasi. Bahwa jaman ini adalah jaman post-modernis, semua kebenaran itu tidak mutlak, melainkan sama-sama memiliki hal yang baik dan buruk. Menengahi soal ini, mungkin ada baiknya kita mengingat kembali kata Barbara Ward dalam “Hanya Satu Bumi”, yang diingatkan kembali oleh Goenawan Mohamad dalam sebuah artikel “Catatan Pinggir”-nya, tanggal 20 Juni 1981: “Kita tak boleh mengabaikan kapasitas orang untuk tergerak oleh argumen kebaikan.” 

Setiap niatan yang baik memang harus disambut dengan baik. Akan tetapi bukan berarti ia serta merta lepas dari kritik. Begitu juga adanya jika mengingat bahwa hari ini adalah bulan yang fitri. Seolah mengamini berkah Ilahi di jaman yang kontemporer, kata sebagian kalangan, terutama mereka yang menganut paham Utopian, ucapan maaf dari satu perangkat canggih dengan laju menjalar melalui jaringan elektronik dan singgah di perangkat canggih lain. Hanya menyusun satu paragraf “minal aidin wal faizin” dan satu kali klik, pesan singkat menyebar dan tersampaikan ke semua orang yang kita inginkan. Lantas kita akan kembali bertanya, adakah niat yang suci dan tulus dari kita yang melakukannya? Apakah kita telah menggunakan kunci 'kerelaan' untuk berkorban melakukannya? Rela menghabiskan pulsa, barangkali? Atau kita telah memilih untuk tidak mengikuti prinsip si mahasiswa, lalu berniat untuk membuat semua orang senang? Dan akan muncul semacam kemungkinan pasti bahwa pertanyaan yang seharusnya ditujukan ke diri sendiri itu justru akan terbenam oleh sebuah pertanyaan lain, “Siapa yang benar-benar meminta maaf kepada siapa?”

Kita memang tak boleh mengabaikan kapasitas orang untuk tergerak oleh argumen kebaikan. Akan tetapi boleh lah kita mempertanyakan kelalaian manusia dalam menanggapi perkembangan yang ada, tak menyadari dirinya menjadi komoditas sebuah sistem yang tidak bisa ditolelir ketidakbaikannya. Lagipula, di sebagian besar masyarakat kita saat ini, apakah menekan satu tombol di telepon seluler atau perangkat canggih lainnya membutuhkan satu kapasitas khusus tertentu? Bukannya mempertanyakan tentang kapasitas, kita malah meragukan apakah kapasitas, kerelaan, dan konflik batin untuk memilih jalan itu ada atau tidak. 

Daerah ini memang telah menjadi kota mati. Silaturahmi tak lagi dilihat secara fisik, karena dia telah menjamah dunia maya yang tak terbatas. Semacam refleksi dari masyarakatnya yang, mungkin, sudah jauh dari sadar dan mawas diri terhadap kecanggihan perangkat masa kini yang bisa saja menikam tanpa pertimbangan baik-buruk sama sekali. /buklethapmas





Read more

18 August, 2011

Selayaknya Manusia, Universitas Adalah Universitas

“Jadi, kalau kehadiran kalian kurang dari 25% dari total absen selama KAMABA (Kegiatan Mahasiswa Baru), maaf-maaf saja, jaket kuning terpaksa kami tahan, dan mahasiswa yang mengalaminya wajib mengikuti rangkaian KAMABA tahun depan,” ujar Manajer Pendidikan salah satu fakultas di UI. Para Maba (mahasiswa baru) kontan terhenyak, suasana langsung riuh! Sebagian memelas, sebagian menggerutu, atau sebagian memilih untuk bersantai (seperti saya). 

Kalau mengutip perkataan seorang teman, “Lu beli aja jakun (jaket kuning) di FISIP, cyin. Beli lambang makara fakultas sekalian. Lu gak ikut OKK? Beh, lu tau gak di Pocin (Pondok Cina.red) emblemnya dijual? Lagian bullshit banget, udah ikut OKK rajin-rajin, ujung-ujungnya mesti beli lagi ama senior. Gue ngarepinnya dengan ikut OKK, gue bakal dapet gratis, dan emblemnya bersifat eksklusif!” 

Sebuah kekesalan yang beralasan bagi saya, mengingat kami harus datang pagi-pagi sekali dan harus melewati jalan raya untuk menuju balairung UI (tidak boleh lewat jalan pintas). Ini cukup melelahkan bagi saya yang berjantung lemah. Tapi pada akhirnya, kami hanya disuguhi pernyataan yang menjustifikasikan bobroknya pemerintahan melalui talkshow yang bagi saya tidak terlalu menarik, pernyataan rasis dibalik omongan yang (katanya) berusaha membangkitkan nasionalisme, dan emblem bukti mengikuti kegiatan yang rupanya tetap dijual—padahal kami justru mengharapkan yang gratis. Tanpa bermaksud pelit, lalu apa bedanya dengan emblem yang notabene dijual bebas di sekitar kampus? Kalau begitu, yang tidak ikut kegiatan bisa saja minta tolong pada temannya yang ikut untuk membelikan emblem. 

Ini tidak terlalu adil bagi saya. 

Dan bicara soal ketidakadilan, kembali saya teringat ucapan manajer pendidikan itu. Perkataannya bagaikan momok yang menakuti Maba—kecuali saya mungkin (Yah, sedikit takutlah!). Sikap saya yang santai sendiri didasari pembelian jaket almamater yang cukup mudah dilakukan, dan kalaupun takut tidak bisa ikut demo, sayang sekali saya sudah membuat semacam self-promise untuk tidak melakukan demonstrasi selama saya menjadi mahasiswa. 

Akan tetapi apa yang dikatakan oleh Manajer Pendidikan itu sudah tidak menjadi momok lagi dalam diri saya semenjak pacar saya mengirim pesan singkat di ponsel yang berbunyi: Hai, aku baru daftar ulang tadi, dan sudah dapat jaket kuning lho. Saya pribadi langsung kaget; pacar saya adalah maba jurusan KKI (Kelas Khusus Internasional), dan dia sendiri baru lulus dari gelombang terakhir penerimaan mahasiswa baru. Melihat tanggal dia daftar ulang, dia praktis tidak akan mengikuti KAMABA apapun seperti maba reguler atau paralel lainnya kecuali OBM (Orientasi Belajar Mahasiswa) yang memang penting untuk maba. 

Saya pun bertanya-tanya, inikah kampus perjuangan yang dielu-elukan oleh para senior? Apakah hanya karena pacar saya membayar uang kuliah lebih maka dia berhak mendapatkan pelayanan lebih (tambahan informasi, formulirnya lebih mahal daripada tes-tes lain)? Tidak pernah sekalipun ide itu terlintas di kepala saya. Nyatanya ini terjadi di kampus saya, di kampus sekaliber UI. 

Dan ini hanya fakta pahit yang membuktikan bahwa, selayaknya manusia, universitas adalah universitas. Sekaliber apapun dia, universitas tetaplah lembaga pendidikan yang butuh sokongan dana dengan praktek ketidakadilan sebagai balasannya.

_________________________________________________________________
Tulisan ini merupakan sumbangan dari Perdana Putri (salah seorang MABA dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia)
Read more

Kampus yang Lupa


Memang, di kampus FISIP UI ada banyak orang dengan beragam latar belakang. Tidak semuanya Muslim dan menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan. Bahkan ada juga beberapa Muslim yang dengan santainya memesan makanan, menegaskan diri tidak menjalankan kewajiban ibadah di bulan yang suci ini. Oleh sebab itu, para penjual di Kantin Takor pun tetap membuka lapak, melayani mereka yang 'kelaparan' di bulan pengekang setan. Kain-kain spanduk dibentangkan untuk menutupi pemandangan orang-orang menyantap makanan, mungkin untuk pertimbangan menghargai orang yang menjalani ibadah saum.

Namun bukan itu yang menjadi sorotan. Terlalu berlebihan jika mengatakan bahwa kampus telah melakukan kekhilafan karena mengizinkan kantin membuka warung di Bulan Puasa ini. Buklethapmas justru melihat persoalan yang berbeda. Kami justru tergelitik dengan tampilan spanduk yang difungsikan sebagai penutup pandangan itu. Bayangkan saja, kita langsung disuguhi visualisasi iklan saat berdiri di depan kantin. Apakah kampus telah lupa? Mungkin ini hanya inisiatif dari para pegawai kantin yang mengambil spanduk bekas dan menggunakannya. Akan tetapi, merupakan suatu kekhilafan yang fatal ketika kampus, tempat berkumpulya para cendekia, membiarkan areanya disisipi oleh iklan tanpa bayaran (atau justru memang FISIP UI meminta bayaran? Kalau begitu, jangan-jangan FISIP UI menjadi 'pelacur'?)

Sebuah fenomena yang tak terelakkan, di tengah-tengah masyarakat (bahkan di lingkungan institusi pendidikan sekaliber UI) kita tidak pernah terlepas dari apa yang namanya reklame alias iklan. Kita menjadi 'korban paksaan' pengusaha. Ternyata, UI sudah benar-benar tunduk dengan komersialisasi. Bukan lagi menjual dirinya untuk membiarkan raganya menjadi tempat berhongkang-kakinya para pelaku industri dalam memajang iklan-iklan mereka, kali ini justru UI merelakan dirinya untuk 'ditempeli' iklan secara cuma-cuma. Menyedihkan? Buklethapmas menjawabnya: Ya!
/buklethapmas
Read more

17 August, 2011

Beraksi Mencari Luka


“Kau yakin untuk ikut serta melakukan itu?” tanyaku mengulangi. “Apa kata orang nanti? Sekarang ini sudah tidak jaman.” 

“Dari mana letak tidak jamannya?!” katanya ketus seraya membakar sebatang rokok samsu lagi. “Besok itu hari yang tepat. Biar mereka sadar kalau sudah menjadi binatang bagi kita yang tidak mendapat perlakuan adil ini.” 

“Tapi masih ada cara-cara lain yang lebih baik, Pot!” 

“Alah, aku tak paham dengan gayamu. Menurutku itu malah tindakan yang lamban. Sekarang ini kita harus melakukan tindakan yang nyata. Mahasiswa itu seolah kehilangan ruh. Sekarang lah saat yang tepat. Kita harus melakukan protes, meskipun itu hanya ke pihak rektorat.” 

“Tapi rencana besok itu rencana goblok. Hanya bersifat sementara. Beruntung kalau didengarkan, kalau tidak? Mereka tak akan menggubris kalian. Lebih baik memperjuangkan sesuatu yang lebih bernilai dalam waktu yang panjang ke depan. Memang harus pelan-pelan, tidak bisa terburu-buru seperti itu.” 

“Terserah kau lah! Kau sok pintar, sok berencana. Pandainya hanya mengkritik diam-diam. Bilang saja kau tak berani panas-panasan di Bulan Puasa ini!” 

“Tapi besok hari kemerdekaan, Pot! Kau mau menodai hari kemerdekaan dengan aksi brutal?” 

“Kita belum merdeka ketika belum mendapat kebebasan untuk sekolah setinggi-tingginya! Lagi pula siapa yang akan melakukan tindakan brutal? Kami akan melakukan aksi yang sesuai dengan ketentuan dan aturan.” 

“Aku meragukannya, karena pemimpin massa besok adalah kau. Aku sangat mengerti kau orang yang seperti apa.” 

“Kau meragukan kawanmu ini?” 

“Melihat dan belajar dari pengalaman yang sudah-sudah; ya, aku sangat sangat ragu!” 

“Terserah. Jika kau ingin ikut, berkumpul besok, pukul tujuh, di Halte PNJ! Mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan yang lain sudah akan bersiap-siap saat itu.” 

“Tapi…?!” aku tidak meneruskan kalimat karena dia begitu saja pergi meninggalkan aku. 

Keesokan harinya, sekumpulan massa yang tergabung dalam gerakan mahasiswa yang sudah muak dengan kebijakan kampus tentang biaya pendidikan, melakukan aksi demo di sebuah lokasi gedung di dekat Rektorat. Tujuan mereka (sepertinya) memang ingin menerobos ke halaman rektorat. Sedangkan di bagian dalam lingkungan rektorat, di gelar kegiatan upacara bendera memperingati hari kemerdekaan. 

“Biarkan kami masuk!” kata salah seorang demonstran. Di tangan kirinya membawa sebatang bambu untuk mengibarkan bendera. 

“Tidak bisa. Sedang ada upacara. Ini bulan puasa. Pulang, pulang sana! Jangan membuat rusuh!” ujar petugas keamanan. 

“Dorong! Dorong!” yang lain berseru. Sebarisan mahasiswa yang emosi karena tidak mendapatkan perhatian dari para rektorat-krat berusaha mencari celah masuk di antara kawat berduri yang dibentangkan di jalur masuk. 

“Dasar otak batu!” seru seorang satpam seraya memukul kepala salah satu mahasiswa. Sedangkan sepasukan keamanan yang lain berusaha menghalau mahasiswa dengan mengambil atribut aksi. 

Demonstrasi berakhir ricuh. Dua orang korban luka dari pihak mahasiswa. Kurang dari 3 jam, demonstrasi mahasiswa itu dapat dihalau oleh petugas (atau mungkin lebih tepatnya, mahasiswa menciut ketakutan karena timbul korban, dan memutuskan untuk membubarkan diri). Dua orang korban luka itu dilarikan ke rumah sakit kampus. 

Kemudian apa yang menjadi hasil? Hanyalah hujatan dan umpatan dari orang-orang yang mengecam rencana demonstrasi itu. Para pejabat dan pemangku kepentingan kampus seolah tidak menanggapi. Bisa aku tebak, tuntutan-tuntutan yang diteriakkan pada hari itu tidak akan memberikan efek apa-apa. Sebuah aksi tidak akan memberikan dampak berarti di tempat dan waktu yang salah. Yang didapatkan hanyalah semacam tahik kucing atau hasil sampah!

Aku hanya bisa menghela nafas dan menghujat-hujat mereka di dalam tulisanku sendiri. Betapa bodohnya kami, mahasiswa sekarang ini. /buklethapmas

Read more

buklethapmas Designed by buklethapmas (ↄ) 2011