“Jadi, kalau kehadiran kalian kurang dari 25% dari total absen selama KAMABA (Kegiatan Mahasiswa Baru), maaf-maaf saja, jaket kuning terpaksa kami tahan, dan mahasiswa yang mengalaminya wajib mengikuti rangkaian KAMABA tahun depan,” ujar Manajer Pendidikan salah satu fakultas di UI. Para Maba (mahasiswa baru) kontan terhenyak, suasana langsung riuh! Sebagian memelas, sebagian menggerutu, atau sebagian memilih untuk bersantai (seperti saya).
Kalau mengutip perkataan seorang teman, “Lu beli aja jakun (jaket kuning) di FISIP, cyin. Beli lambang makara fakultas sekalian. Lu gak ikut OKK? Beh, lu tau gak di Pocin (Pondok Cina.red) emblemnya dijual? Lagian bullshit banget, udah ikut OKK rajin-rajin, ujung-ujungnya mesti beli lagi ama senior. Gue ngarepinnya dengan ikut OKK, gue bakal dapet gratis, dan emblemnya bersifat eksklusif!”
Sebuah kekesalan yang beralasan bagi saya, mengingat kami harus datang pagi-pagi sekali dan harus melewati jalan raya untuk menuju balairung UI (tidak boleh lewat jalan pintas). Ini cukup melelahkan bagi saya yang berjantung lemah. Tapi pada akhirnya, kami hanya disuguhi pernyataan yang menjustifikasikan bobroknya pemerintahan melalui talkshow yang bagi saya tidak terlalu menarik, pernyataan rasis dibalik omongan yang (katanya) berusaha membangkitkan nasionalisme, dan emblem bukti mengikuti kegiatan yang rupanya tetap dijual—padahal kami justru mengharapkan yang gratis. Tanpa bermaksud pelit, lalu apa bedanya dengan emblem yang notabene dijual bebas di sekitar kampus? Kalau begitu, yang tidak ikut kegiatan bisa saja minta tolong pada temannya yang ikut untuk membelikan emblem.
Ini tidak terlalu adil bagi saya.
Dan bicara soal ketidakadilan, kembali saya teringat ucapan manajer pendidikan itu. Perkataannya bagaikan momok yang menakuti Maba—kecuali saya mungkin (Yah, sedikit takutlah!). Sikap saya yang santai sendiri didasari pembelian jaket almamater yang cukup mudah dilakukan, dan kalaupun takut tidak bisa ikut demo, sayang sekali saya sudah membuat semacam self-promise untuk tidak melakukan demonstrasi selama saya menjadi mahasiswa.
Akan tetapi apa yang dikatakan oleh Manajer Pendidikan itu sudah tidak menjadi momok lagi dalam diri saya semenjak pacar saya mengirim pesan singkat di ponsel yang berbunyi: Hai, aku baru daftar ulang tadi, dan sudah dapat jaket kuning lho. Saya pribadi langsung kaget; pacar saya adalah maba jurusan KKI (Kelas Khusus Internasional), dan dia sendiri baru lulus dari gelombang terakhir penerimaan mahasiswa baru. Melihat tanggal dia daftar ulang, dia praktis tidak akan mengikuti KAMABA apapun seperti maba reguler atau paralel lainnya kecuali OBM (Orientasi Belajar Mahasiswa) yang memang penting untuk maba.
Saya pun bertanya-tanya, inikah kampus perjuangan yang dielu-elukan oleh para senior? Apakah hanya karena pacar saya membayar uang kuliah lebih maka dia berhak mendapatkan pelayanan lebih (tambahan informasi, formulirnya lebih mahal daripada tes-tes lain)? Tidak pernah sekalipun ide itu terlintas di kepala saya. Nyatanya ini terjadi di kampus saya, di kampus sekaliber UI.
Dan ini hanya fakta pahit yang membuktikan bahwa, selayaknya manusia, universitas adalah universitas. Sekaliber apapun dia, universitas tetaplah lembaga pendidikan yang butuh sokongan dana dengan praktek ketidakadilan sebagai balasannya.
_________________________________________________________________
Tulisan ini merupakan sumbangan dari Perdana Putri (salah seorang MABA dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia)

Twitter Follow our tweets!
marxist Marxist Indonesia
Facebook Add our facebook!
KiriMahasiswa Revolusioner
Karbon Journal
Volume IMahasiswa Baru