Teras

My Photo
buklethapmas
Melihat orang bertingkah aneh dan bodoh itu menyenangkan; hiburan yang tak ternilai. Menyampahi dan mengkritik menjadi bumbu penyedap. Setidaknya, hal itu menjadi pelampiasan dan penghilang rasa kebosanan di tengah-tengah ketidakgerakan dan keluhan dari mulut-mulut orang yang tidak berbuat apa-apa. Daripada menderita sendiri karena kesadaran yang memuakkan ini, lebih baik menikmati semati-matinya, keluarkan semua umpatan ketidaksenangan itu! Umpat kami, kami umpat pula kalian! "Ayo kita mengangkat wacana sampah, umpat-mengumpat, dan kritik omong kosong!"
View my complete profile

Blog

18 August, 2011

Kampus yang Lupa


Memang, di kampus FISIP UI ada banyak orang dengan beragam latar belakang. Tidak semuanya Muslim dan menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan. Bahkan ada juga beberapa Muslim yang dengan santainya memesan makanan, menegaskan diri tidak menjalankan kewajiban ibadah di bulan yang suci ini. Oleh sebab itu, para penjual di Kantin Takor pun tetap membuka lapak, melayani mereka yang 'kelaparan' di bulan pengekang setan. Kain-kain spanduk dibentangkan untuk menutupi pemandangan orang-orang menyantap makanan, mungkin untuk pertimbangan menghargai orang yang menjalani ibadah saum.

Namun bukan itu yang menjadi sorotan. Terlalu berlebihan jika mengatakan bahwa kampus telah melakukan kekhilafan karena mengizinkan kantin membuka warung di Bulan Puasa ini. Buklethapmas justru melihat persoalan yang berbeda. Kami justru tergelitik dengan tampilan spanduk yang difungsikan sebagai penutup pandangan itu. Bayangkan saja, kita langsung disuguhi visualisasi iklan saat berdiri di depan kantin. Apakah kampus telah lupa? Mungkin ini hanya inisiatif dari para pegawai kantin yang mengambil spanduk bekas dan menggunakannya. Akan tetapi, merupakan suatu kekhilafan yang fatal ketika kampus, tempat berkumpulya para cendekia, membiarkan areanya disisipi oleh iklan tanpa bayaran (atau justru memang FISIP UI meminta bayaran? Kalau begitu, jangan-jangan FISIP UI menjadi 'pelacur'?)

Sebuah fenomena yang tak terelakkan, di tengah-tengah masyarakat (bahkan di lingkungan institusi pendidikan sekaliber UI) kita tidak pernah terlepas dari apa yang namanya reklame alias iklan. Kita menjadi 'korban paksaan' pengusaha. Ternyata, UI sudah benar-benar tunduk dengan komersialisasi. Bukan lagi menjual dirinya untuk membiarkan raganya menjadi tempat berhongkang-kakinya para pelaku industri dalam memajang iklan-iklan mereka, kali ini justru UI merelakan dirinya untuk 'ditempeli' iklan secara cuma-cuma. Menyedihkan? Buklethapmas menjawabnya: Ya!
/buklethapmas

buklethapmas Designed by buklethapmas (ↄ) 2011