Teras

My Photo
buklethapmas
Melihat orang bertingkah aneh dan bodoh itu menyenangkan; hiburan yang tak ternilai. Menyampahi dan mengkritik menjadi bumbu penyedap. Setidaknya, hal itu menjadi pelampiasan dan penghilang rasa kebosanan di tengah-tengah ketidakgerakan dan keluhan dari mulut-mulut orang yang tidak berbuat apa-apa. Daripada menderita sendiri karena kesadaran yang memuakkan ini, lebih baik menikmati semati-matinya, keluarkan semua umpatan ketidaksenangan itu! Umpat kami, kami umpat pula kalian! "Ayo kita mengangkat wacana sampah, umpat-mengumpat, dan kritik omong kosong!"
View my complete profile

Blog

17 August, 2011

Beraksi Mencari Luka


“Kau yakin untuk ikut serta melakukan itu?” tanyaku mengulangi. “Apa kata orang nanti? Sekarang ini sudah tidak jaman.” 

“Dari mana letak tidak jamannya?!” katanya ketus seraya membakar sebatang rokok samsu lagi. “Besok itu hari yang tepat. Biar mereka sadar kalau sudah menjadi binatang bagi kita yang tidak mendapat perlakuan adil ini.” 

“Tapi masih ada cara-cara lain yang lebih baik, Pot!” 

“Alah, aku tak paham dengan gayamu. Menurutku itu malah tindakan yang lamban. Sekarang ini kita harus melakukan tindakan yang nyata. Mahasiswa itu seolah kehilangan ruh. Sekarang lah saat yang tepat. Kita harus melakukan protes, meskipun itu hanya ke pihak rektorat.” 

“Tapi rencana besok itu rencana goblok. Hanya bersifat sementara. Beruntung kalau didengarkan, kalau tidak? Mereka tak akan menggubris kalian. Lebih baik memperjuangkan sesuatu yang lebih bernilai dalam waktu yang panjang ke depan. Memang harus pelan-pelan, tidak bisa terburu-buru seperti itu.” 

“Terserah kau lah! Kau sok pintar, sok berencana. Pandainya hanya mengkritik diam-diam. Bilang saja kau tak berani panas-panasan di Bulan Puasa ini!” 

“Tapi besok hari kemerdekaan, Pot! Kau mau menodai hari kemerdekaan dengan aksi brutal?” 

“Kita belum merdeka ketika belum mendapat kebebasan untuk sekolah setinggi-tingginya! Lagi pula siapa yang akan melakukan tindakan brutal? Kami akan melakukan aksi yang sesuai dengan ketentuan dan aturan.” 

“Aku meragukannya, karena pemimpin massa besok adalah kau. Aku sangat mengerti kau orang yang seperti apa.” 

“Kau meragukan kawanmu ini?” 

“Melihat dan belajar dari pengalaman yang sudah-sudah; ya, aku sangat sangat ragu!” 

“Terserah. Jika kau ingin ikut, berkumpul besok, pukul tujuh, di Halte PNJ! Mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan yang lain sudah akan bersiap-siap saat itu.” 

“Tapi…?!” aku tidak meneruskan kalimat karena dia begitu saja pergi meninggalkan aku. 

Keesokan harinya, sekumpulan massa yang tergabung dalam gerakan mahasiswa yang sudah muak dengan kebijakan kampus tentang biaya pendidikan, melakukan aksi demo di sebuah lokasi gedung di dekat Rektorat. Tujuan mereka (sepertinya) memang ingin menerobos ke halaman rektorat. Sedangkan di bagian dalam lingkungan rektorat, di gelar kegiatan upacara bendera memperingati hari kemerdekaan. 

“Biarkan kami masuk!” kata salah seorang demonstran. Di tangan kirinya membawa sebatang bambu untuk mengibarkan bendera. 

“Tidak bisa. Sedang ada upacara. Ini bulan puasa. Pulang, pulang sana! Jangan membuat rusuh!” ujar petugas keamanan. 

“Dorong! Dorong!” yang lain berseru. Sebarisan mahasiswa yang emosi karena tidak mendapatkan perhatian dari para rektorat-krat berusaha mencari celah masuk di antara kawat berduri yang dibentangkan di jalur masuk. 

“Dasar otak batu!” seru seorang satpam seraya memukul kepala salah satu mahasiswa. Sedangkan sepasukan keamanan yang lain berusaha menghalau mahasiswa dengan mengambil atribut aksi. 

Demonstrasi berakhir ricuh. Dua orang korban luka dari pihak mahasiswa. Kurang dari 3 jam, demonstrasi mahasiswa itu dapat dihalau oleh petugas (atau mungkin lebih tepatnya, mahasiswa menciut ketakutan karena timbul korban, dan memutuskan untuk membubarkan diri). Dua orang korban luka itu dilarikan ke rumah sakit kampus. 

Kemudian apa yang menjadi hasil? Hanyalah hujatan dan umpatan dari orang-orang yang mengecam rencana demonstrasi itu. Para pejabat dan pemangku kepentingan kampus seolah tidak menanggapi. Bisa aku tebak, tuntutan-tuntutan yang diteriakkan pada hari itu tidak akan memberikan efek apa-apa. Sebuah aksi tidak akan memberikan dampak berarti di tempat dan waktu yang salah. Yang didapatkan hanyalah semacam tahik kucing atau hasil sampah!

Aku hanya bisa menghela nafas dan menghujat-hujat mereka di dalam tulisanku sendiri. Betapa bodohnya kami, mahasiswa sekarang ini. /buklethapmas


buklethapmas Designed by buklethapmas (ↄ) 2011