Tampang bersemangat terpancar dari beberapa di antara mereka, sementara yang lain melemparkan tampang bosan. Belum penuh ruangan itu oleh para mahasiswa baru. Yang lainnya masih dalam mobilisasi para TIBUM. Pada hari itu, 16 Agustus 2011, keseluruhan MABA regular FISIP dibagi menjadi beberapa kelas, berdasarkan departemen dan jurusan, dan diharuskan hadir di dalam kelas untuk mendengarkan penjelasan tentang departemen perkuliahan yang mereka geluti, dari mulut-mulut para aktor yang mengelola departemen: kepala departemen, sekretaris umum, dan kepala program.
Para panitia alias senior tahun 2010, 2009 dan beberapa 2008 berjaket kuning sibuk mondar-mandir. Entah mengurus apa. Yang marah-marah, mungkin mereka TIBUM. Yang sibuk dengan walkie-talkie, mungkin mereka panita pelaksana. Yang sibuk dengan kamera foto dan video, mungkin mereka seksi dokumentasi. Intinya, pemandangan yang kita saksikan adalah para mahasiswa baru yang berada di bawah dominasi kewibawaan para panita alias senior dan para pemangku jabatan di kampus.
Bah! Ujung-ujungnya hanya memang tahik kucing saja yang akan kita temukan, meninjau apa yang terjadi pada hari itu, terlebih jika kita telah mengetahui tetek bengek dan semua kebobrokan kampus. Memang, Buklethapmas hanya mendengar segala macam kebobrokan itu bukan dari fakta dan data yang akurat dan aktual, melainkan dari gunjingan-gunjingan warga kampus yang sudah pesimis dengan ke-ideal-an institusi perguruan tinggi itu. Namun demikian, meskipun hanya berupa bahan gosip, bukankah itu juga (setidak-tidaknya) berasal dari pokok yang sama, yaitu penemuan fakta kekosongan dan kecacatan di sana-sini, yang tidak terumumkan ke khalayak kampus?! Buklethapmas, yang dengan tegas menyatakan sebagai media yang memang memprovokasi secara subjektif, bukan cover both side, dengan sengaja menjadikan bahan-bahan gunjingan ini sebagai referensi, untuk memanjang-manjangkan semua ketahikkucingan yang akan disebutkan di dalam tulisan kali ini.
Pecahnya Dekanat dan Mahasiswa, tetapi tetap satu jua
Di kampus UI ini, secara umum rangkaian kegiatan mahasiswa baru terdiri dari tiga tahapan ospek―meskipun saat ini kampus itu tidak lagi menggunakan kata ospek, Buklethapmas tetap menggunakannya, karena intinya tak jauh berbeda, kendati isi dan bentuk materi kegiatannya berubah alias berbeda― yaitu ospek tingkat universitas, opsek tingkat fakultas, dan ospek tingkat jurusan. Dan pada tahun ini, sepertinya, harus ditambah satu tahapan lagi, yang disisipkan antara fakultas dan jurusan, yaitu ospek fakultas oleh mahasiswa.
Inilah yang menjadi pertanyaan besar: mengapa ospek fakultas terpecah menjadi dua bagian, yaitu dari Dekanat dan dari mahasiswa (ospek dari badan organisasi atau lembaga mahasiswa resmi kampus, semacam BPM dan FORBAMA)? Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, bahwa kegiatan mahasiswa baru tingkat fakultas berada di bawah Dekanat secara keseluruhan, bekerja sama dengan mahasiswa senior dalam membina mahasiswa barunya untuk mengenal lingkungan kampus beserta ketentuan-ketentuan di dalamnya.
Ada kabar yang terdengar bahwa kecacatan di tahun lalu yang menyebabkan Dekanat lepas tangan terhadap mahasiswa, terkait dengan prosedur pelaksanaan yang tidak memenuhi target, sehingga Dekanat memutuskan untuk mengadakan rangkaian kegiatan sendiri, yang kemudian diberi nama PSAF (Pengenalan Sistem Akademik Fakultas). Sedangkan dari pihak mahasiswa menamakan kegiatannya dengan PPA IKM (Penerimaan dan Pembinaan Anggota Ikatan Keluarga Mahasiswa).
Entah apa yang terjadi sehingga mereka terpecah. Akan tetapi kita dapat menebak bahwa ada ketidaksamaan paham antara ke dua belah pihak. Pembagian nama menjadi dua kegiatan tersebut sudah menjadi representasi dari ‘pertikaian’ itu. Adalah mubazir bagi Dekanat untuk membuat dua buah kegiatan yang hampir sama serupa (sama-sama membina mahasiswa baru), kecuali untuk mempertegas posisi tawar dan kekuasaan dari pihak Dekanatnya sendiri, dan tentunya ini juga terpicu oleh perbedaan paham atau ‘konflik’ tersebut (yang mana bagi kita, orang luar, hanya bisa meraba-raba apa konflik yang sesungguhyan terjadi). Memang, ada yang mengatakan bahwa materi dan bentuk kegiatan antara PSAF dan PPA IKM adalah berbeda. PSAF lebih memperkenalkan bagaimana sistem akademik fakultas dan masing-masing departemen secara umum, dan juga kegiatan beberapa seminar. Dan perlu pula untuk diketahui bahwa dalam PPA IKM sendiri, apa yang termuat di dalamnya adalah pengenalan tentang fakultas, akademis profesi, kerohanian, nilai-nilai kemahasiswaan, dan pengenalan asas dari ikatan keluarga mahasiswa (yang ujung-ujungnya hanya berkisar pada tanggung jawab, kedewasaan, kebersamaan, visioner, intelektual, dan segala macam tetek bengeknya). Akan tetapi bagi Buklethapmas, signifikansi dari membedakan kegiatan itu hanyalah tindakan berlebih-lebihan saja, dan bahkan visi-nya pun sangat riskan untuk dikatakan dapat tercapai sepenuhnya dan tertanam di dalam otak dan hati setiap mahasiswa baru. Karena pada dasarnya, tujuan dari masing-masing kegiatan yang dibilang berbeda itu hanya satu: mengenalkan mahasiswa kepada kampusnya.
Dari dulu, sejak hebohnya berita kematian mahasiswa yang diopsek di STPDN, ada banyak protes dari masyarakat tentang ospek kampus, atau timbul semacam kecemasan terkait segala macam rangkaian kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa di kampus untuk membina mahasiswa baru. Isu itu beredar secara nasional. Hal ini menyebabkan persoalan legalitas dari kegiatan mahasiswa baru selalu memicu pertanyaan bagi orang tua/wali MABA terhadap kampus. Sangat wajar jika ada banyak muncul pertanyaan dan keraguan dari berbagai pihak atas rangakaian kegiatan yang juga diulang-ulang, bahkan diadakan lagi pada tahun ini. Dan sungguh lucu ketika masing-masing PPA IKM dari pelbagai fakultas di UI menegaskan bahwa mereka merupakan kegiatan resmi dan legal dari fakultas dan dari rekotrat, seolah-olah mereka takut ada mahasiswa baru yang membolos kegiatan itu. Sudahlah berkonflik dengan fakultasnya/Dekanatnya, mahasiswa FISIP yang tergabung dalam panitia sibuk pula dengan kecemasan terhadap keraguan dari mahasiswa baru: ikut atau tidak. Dan ini baru persoalan di tingkat fakultas, sedangkan di tingkat jurusan lebih kompleks dan semraut lagi persoalannya.
Kegiatannya biasa-biasa saja
Lalu apa yang Buklethapmas temui dalam sehari rangkaian kegiatan yang sempat kami hadiri itu (atau sempat kami tinjau secara diam-diam, yaitu hari kedua, hari terakhir kegiatan PSAF)?
Yang pertama, poin yang cukup lucu adalah munculnya wajah-wajah para panitia PPA IKM di rangkaian kegiatan PSAF, terutama TIBUM yang bertugas memobilisasi mahasiswa baru (lebih sering membentak-bentak). Ini menjadi pertanyaan: bukankah PSAF adalah kegiatan dari Dekanat? Mengapa mahasiswa terlibat? Mungkin ada faktor dan pertimbangan lain yang menyebabkan PSAF juga diurusi sebagian oleh mahasiswa. Sedangkan Buklethapmas sendiri, secara jujur, memang tidak mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan kegiatan PSAF dan PPA IKM tersebut. Akan tetapi, kita hanya berperan melihat dari luar, dari apa yang terlihat lalu menyimpulkannya. Bahwa kalau memang PSAF dan PPA IKM adalah rangkaian kegiatan yang berbeda dalam KAMABA (kegiatan mahasiswa baru), dan dilaksanakan oleh panitia yang berbeda pula (PSAF oleh Dekanat; PPA IKM oleh BPM di bawah FORBAMA), tentunya mereka tidak perlu join atau saling bantu membantu? Atau memang karena tradisi masyarakat kita yang mengajarkan untuk saling bantu membantu? Taruhlah misalnya Buklethapmas keliru dalam membaca soalnya itu, dan mungkin kita tertinggal dari isu-isu yang berkembang terakhir, bagaimana pun kejadian ini tidak bisa diterima secara logis dalam perspektif kritis yang subjektif ini. Akhirnya kita hanya bisa melemparkan pertanyaan skeptis: Kalau begitu, masing-masing dari kedua belah pihak tidak konsisten untuk ‘berpisah’?
Keanehan yang lain ialah soal-soal tahik kucing yang dilebih-lebihkan terkait kebanggan akan menjadi mahasiswa kampus FISIP UI (terutama dalam kegiatan semacam seminar di PAU, pertemuan di dalam kelas dengan Departemen, dsb). Pada titik ini, mahasiswa disuguhi beragam mimpi dan kemungkinan-kemungkinan ideal yang dapat diraih karena telah menjadi mahasiswa di kampus kuning. Tampang-tampang mahasiswa baru terkesima, tersenyum-senyum, berbusung dada, bersemangat, membayangkan segala macam keasyikan dan keseruan yang bakal mereka temui dalam menjalani hari-hari sebagai civitas akademika FISIP UI.
Mereka, mahasiswa baru itu, belum tahu saja dengan apa yang sesungguhnya ada. Mungkin mereka akan mengeluarkan umpatan dan kebencian yang diawali kekecewaan ketika telah menemui kenyataan bahwa segala yang mereka dengar hanya mimpi belaka.
Sesungguhnya, apa yang dielu-elukan dan di-indah-indah-kan oleh para panitia PSAF dan pembicara dari masing-masing Departemen tidak sepenuhnya keliru. Semua itu bisa saja tercapai jika memang mahasiswa barunya benar-benar tekun dan serius menjadi seorang mahasiswa. Namun yang salah adalah penyampaian mimpi-mimpi yang begitu tinggi itu seolah memberitahukan kepada mereka bahwa semuanya dapat dijalani dengan mudah, seolah berkata, “Kalian PASTI akan sukses karena sudah menyandang nama mahasiswa UI.” konsekuensinya ke depan, mungkin, adalah mahasiswa baru ini menjadi mahasiswa yang terkungkung dalam keterlenaan akan mimpi-mimpi yang telah ditinggi-tinggikan di awal perkenalan kampus. Mahasiswa mengenal kampus dengan mimpi-mimpi 'kebohongan' yang dilebih-lebihkan (bahkan sangat terlalu dilebih-lebihkan).
Sedangkan persoalan yang sangat penting, yang sangat menentukan proses perkuliahan bagi mahasiswa baru itu ke depannya, tidak disampaikan dengan benar. Soal SIAK NG, misalnya, wadah atau akun pribadi masing-masing mahasiswa itu, yang menjadi kanal untuk melakukan proses registrasi dan penilaian serta pemilihan mata kuliah secara online yang digagas oleh UI, tidak diasistensi dengan benar oleh panitia atau pihak Dekanat. Buktinya, hingga pukul tiga sore hari itu, masih banyak mahasiswa baru yang tidak mengerti tentang proses kerja dan penggunaan SIAK NG tersebut. Sudahlah “bertikai” dengan panitia PPA IKM, Dekanat berbuntut salah pula dalam membina mahasiswanya. Ujung-ujungnya, panitia dari PPA IKM pula yang harus mengulang (melalui mentor) tentang SIAK NG tersebut, yang mana banyak dari beberapa mentor yang ogah-ogahan menjelaskannya. Sekali lagi, rangkaian yang dibagi menjadi dua macam kegiatan ini menjadi mubazir. Atau, ospek itu memang tidak relevan lagi pada era sekarang, dan dia menjadi sebuah peristiwa kegiatan yang mubazir pada dasarnya?
Kelucuan yang terakhir, yang mungkin dapat disorot oleh Buklethapmas sementara waktu ini, adalah soal jaket kuning alias Jakun. Terdengar kabar dari seorang mahasiswa baru bahwa mereka belum lagi menerima jaket kuning sampai rangkaian KAMABA berakhir. Dan ada pula kabar bahwa jakun tidak akan diberikan kepada MABA yang tidak mengikuti KAMABA dengan baik dan benar.
Bukankah itu benar-benar tahik kucing? Memangnya yang kita cari di kampus UI adalah jaket kuning? Bullshit!!! Euforia jaket kuning hanya akan terasa pada tahun awal. Lah pada kenyataannya[?], nantinya dia hanya menjadi barang yang tergantung di dalam lemari, dan hanya akan digunakan dalam kegiatan demoaksi sia-sia dan/atau kunjungan ke stasiun televisi untuk menghadiri program acara tak berkualitas demi mengharapkan uang agar memperbanyak kas dana usaha untuk keberlangsungan kegiatan organisasi/lembaga mahasiswa. Sungguh sangat ironis ketika mahasiswa baru ‘dipaksa’ untuk hadir di dalam rangkaian kegiatan pengenalan kampus dengan ancaman tidak mendapat jaket kuning. Sungguh tidak dewasa sekali. Bukannya menanamkan kedewasaan dan penyadaran bahwa ospek itu penting (dan memang tidak ada penjelasan apa pentingnya ospek itu selain pengenalan kampus semata, atau tentang ikatan keluarga besar mahasiswa semata, atau iming-iming lebel mahasiswa aktif semata, tidak lebih dari itu: tidak ada tendensi lebih dari itu), justru menakut-nakuti mahasiswa baru dengan tidak terlengkapinya atribut kebesaran mahasiswa kampus rakyat yang semakin tahik kucing.
Itu lah beberapa sorotan yang patut kita pertanyakan kembali terkait sehubungan kegiatan mahasiswa baru di FISIP UI (khusus kegiatan PSAF). Mungkin akan ada kabar-kabar sampah selanjutnya pada kegiatan PPA IKM dan MABIM Jurusan. Seperti yang dikatakan di awal, pemaparan sorotan atau masalah dalam tulisan ini berdasarkan referensi gunjingan dan pengamatan sekejap semata, tanpa penelusuran yang lebih mendalam. Jika ada banyak kekurangan (mungkin memang banyak kekeliruan), tolong dimaklumi saja. Karena Buklethapmas memang sangat subjektif. Jika ingin protes, silakan mengumpat dan kritik kami. Salam. /buklethapmas

Twitter Follow our tweets!
marxist Marxist Indonesia
Facebook Add our facebook!
KiriMahasiswa Revolusioner
Karbon Journal
Volume IMahasiswa Baru