Teras

My Photo
buklethapmas
Melihat orang bertingkah aneh dan bodoh itu menyenangkan; hiburan yang tak ternilai. Menyampahi dan mengkritik menjadi bumbu penyedap. Setidaknya, hal itu menjadi pelampiasan dan penghilang rasa kebosanan di tengah-tengah ketidakgerakan dan keluhan dari mulut-mulut orang yang tidak berbuat apa-apa. Daripada menderita sendiri karena kesadaran yang memuakkan ini, lebih baik menikmati semati-matinya, keluarkan semua umpatan ketidaksenangan itu! Umpat kami, kami umpat pula kalian! "Ayo kita mengangkat wacana sampah, umpat-mengumpat, dan kritik omong kosong!"
View my complete profile

Blog

15 August, 2011

"Katanya pak @ArchanProvoke provokasi biar anak mudanya bangkit, tapi kok rasis ya.."

Judul di atas merupakan kutipan twit salah sebuah akun di media jejaring sosial twitter.

Tulisan kali ini akan memaparkan sebuah pendapat yang sangat subjektif. Akan tetapi bukan berarti tanpa alasan yang kuat. Kita sedang memperbincangkan tentang pemikiran yang sangat keliru dari seorang motivator yang berniat melakukan ‘revolusi’ dalam kegiatan-kegiatannya. Dan kemudian kita akan sadar bahwa betapa mahasiswa baru itu sangat rawan: rawan menjadi korban omongan dan kata-kata dari orang-orang yang cukup terpandang, meskipun itu terpandangnya hanya dari beberapa aksi dan eksis di dunia maya. 

Sebutlah saja namanya si @ArchanProvoke―itu memang nama samarannya di akun twitter―seorang pembicara yang mengaku motivator adiluhung, yang melandaskan agama dan norma sebagai pijakan dalam menyampaikan petuah-petuahnya. Pada suatu kali, dia hadir di rangkaian acara kegiatan mahasiswa baru, Universitas Indonesia, menjadi seorang pembicara yang bertanggung jawab untuk ‘memprovokasi’ anak muda agar bangkit dari ‘keterpurukan’. 

Penulis memang tidak hadir saat kegiatan itu, namun kehebohan yang berlangsung setelah acara dapat dibaca di media jejaring sosial twitter itu sendiri, bahwa ternyata pernyataan-pernyataan dari si motivator memancing emosi beberapa pihak. Dapat ditebak, mereka yang bersuara itu adalah pihak-pihak yang dipinggirkan oleh sistem dan norma. Tidak penting persoalan terkait siapa yang melancarkan protes, karena yang lebih layak disorot adalah apa yang diprotes. Dan penulis sendiri, secara sangat subjektif, menempatkan posisi di pihak pemrotes. 

Memang tidak ada kemampuan dari penulis sendiri untuk memaparkan atau menyebutkan apa yang disampaikan oleh sang motivator ‘adiluhung’ itu dalam kegiatan pertemuan semacam seminar yang diselenggarakan beberapa waktu lalu. Namun berdasarkan suara-suara gunjingan dari sana-sini, ada kejelasan bahwa si motivator secara sepihak (dan dengan landasan agama dan norma), telah memojokkan kaum LGBT. Bahwa para homosexual dan lesbian harus ‘diperangi’ dan tidak diperbolehkan ada di tengah-tengah masyarakat, karena dia merupakan suatu penyimpangan, dan melawan ketentuan agama. 

Penulis bukan bagian dari LGBT, tetapi memiliki standpoint yang mendukung kesejahteraan dan kebebasan hak asasi dari setiap manusia. Dalam hal ini, LGBT adalah manusia juga, yang harus dijunjung hak-haknya. Mendiskriminasikan LGBT merupakan tindakan yang membinatangkan manusia, dan itu jelas melanggar HAM dan perbuatan yang sangat berdosa dalam pemahaman agama mana pun. 

Apa yang salah dari kehadiran para homo dan lesbian? Mereka bukan lah pihak yang harus disalahkan. Karena manusia, pada dasarnya, hanya menerima kenyataan yang ada pada dirinya. Dan bahwa para LGBT memiliki orientasi yang berbeda dengan manusia normal (dan batasan definisi normal ini pun harus kita tinjau bersama kembali. Ini PR kita bersama) bukanlah suatu celah pembenaran untuk menanamkan kebencian kepada mereka. Karena kebencian itu sendiri akan berujung pada sikap diskriminatif dan memberikan kerugian. Lagipula, LGBT bukanlah penyakit yang musti disembuhkan. 

Penulis tidak habis pikir mendengar kabar bahwa seorang motivator, yang seharusnya memiliki pikiran terbuka, memprovokasi para mahasiswa baru untuk mengatakan tidak pada LGBT. Itu sungguh keterlaluan, dan merupakan sikap dan tindakan yang sangat jauh dari tradisi intelektual. 

Kalau kita hanya berpegang teguh pada norma sosial masyarakat, semuanya akan menjadi sempit. Kita harus memilahnya dengan pemikiran dan analisa, dari beragam perspektif dan paradigma. Perlu kiranya kita meresapi dua buah pertanyaan skeptis: Norma punya siapa? Norma rumusan siapa? Konstruksi nilai dan prinsip di tengah-tengah masyarakat ini pun mesti harus kita pertanyakan ulang, dan sangat perlu untuk di-dekonstruksi kembali. Bukankah merupakan pemikiran yang dangkal ketika di era postmodern ini kita masih berpikiran sangat konservatif, memandang semua berdasarkan apa yang normatif? Lagi-lagi, menurut penulis, ini bukan sikap seorang intelektual. 

Dan kemudian kita terbentur dengan persoalan keyakinan dan aturan agama. Di dalam agama tertentu, LGBT bahkan dikatakan haram. Penulis tidak mau menyebutkan agama tertentu karena pertimbangan supaya tidak menyerang secara frontal satu pihak. Dengan demikian, jika kita harus berhadapan dengan apa yang namanya agama ini, penulis dengan serta merta akan menggaris bawahi keyakinan semua agama tentang kesejahteraan bagi segala umat dari segala macam golongan. Taruhlah dalam satu keyakinan agama tertentu, LGBT adalah sesuatu yang haram. Lantas apakah dengan demikian kita serta merta harus berlaku tidak adil kepada mereka? Dan menanamkan pola pikir untuk berkata TIDAK kepada LGBT merupakan salah satu contoh konkret dari perlakuan tidak adil tersebut. 

Ada yang mengatakan (dan mungkin juga dikatakan oleh si motivator ‘adiluhung’ itu) bahwa LGBT merupakan ancaman anak-anak kita. What the hell...?! Kalau menurut pendapat penulis, bukan LGBT yang menjadi ancaman, melainkan pribadi-pribadi dan akhlak yang buruk lah yang menjadi ancaman. Meskipun bukan homo atau lesbi, anak kita juga mendapat ancaman dari orang-orang normal yang memiliki niat buruk terhadap kita. Oleh karena itu, meletakkan LGBT dalam posisi yang salah tanpa dasar ini pun merupakan suatu pemikiran yang keliru. 

Baik-buruknya seseorang itu dilihat dari akhlak, dari nurani, budi-pekerti, dan hati serta perilaku dan hubungan silaturahminya dengan orang -orang (semua agama mengajarkan hal itu), BUKAN dari orientasi seksualnya. Menjadi LGBT bukan berarti menjadi orang jahat. Jika memang memiliki niat jahat, ya jahat lah seseorang, tidak ada soal apakah dia LGBT atau tidak. Jika orang memiliki budi pekerti yang luhur dan sikap yang baik, ya baik lah dia, tak perlu mempersoalkan orientasi seksualnya. 

Ini sama saja dengan kita berbicara soal prinsip dan keyakinan. Seorang komunis atau seorang kapitalis, sama-sama merupakan manusia, yang memiliki hak sama untuk hidup, dan memiliki tujuan yang sama, yaitu mencapai kesejahteraan. Dia baru patut untuk disalahkan ketika telah menindas sesama. Orang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, maupun atheis, juga memilik hak yang sama, untuk dapat hidup tenang di masyarakat, tanpa perlu mempersoalkan benar atau salahnya ajaran agama pihak lain. 

Men-generalisasi-kan bahwa LGBT menindas kaum lain, atau mengancam keselamatan orang lain, merupakan pola pikir yang tidak berdasar. Justru kita yang berkeyakinan seperti itu lah yang patut disalahkan karena telah memiliki unsur dan potensi untuk menindas dan membenci pihak tertentu (dalam hal ini LGBT). 

LGBT memiliki hak dan kesempatan yang sama (tanpa ada perbedaan sama sekali) dengan manusia lainnya. Mereka diberikan hak untuk memilih keyakinan, memilih orientasi, dan kesejahteraan sendiri. Manusia lain yang merenggut hak atau mempersulit hak mereka, tidak lebih dari binatang buas yang hidup di hutan rimba. 

Sekali lagi penulis menegaskan pemikiran subjektifnya: agama dan norma bukanlah pembenaran untuk mendiskriminasikan kaum-kaum terpinggirkan, seperti LGBT. 

Bagaimana pun, LGBT tetap ada dan merupakan suatu aspek dan gejala sosial dalam masyarakat. Usaha-usaha untuk menghilangkan mereka dari masyarakat itu sendiri merupakan tindakan yang sama persis dengan genosida. Dan kita semua sepakat bahwa rasisme adalah sesuatu yang harus kita buang jauh dari pikiran dan hati. 

Penulis akhirnya bertanya-tanya, bagaimana nasib para mahasiswa baru yang telah mendapatkan siraman batiniah yang keliru seperti itu? Betapa rawan para MABA untuk disalaharahkan. /buklethapmas


buklethapmas Designed by buklethapmas (ↄ) 2011