Coba pikirkan, mengapa kita harus berlama-lama duduk di sini? Sedari tadi, sudah hampir tiga bungkus rokok kita telan, dan sudah dua kali pula dia datang pergi mengantar bergelas-gelas kopi untuk kita. Katakan padaku, sudah berapa gelas kopi kita tenggak? Aku pun sudah mulai menduga-duga, mungkin sebotol atau dua botol bir akan menemani kita pula sebentar lagi. Dan bukannya memberikan sedikit tanggapan, pertanyaanku ini malah dibalas dengan sendawa-sendawa keras yang menyerang kita. Memang, angin malam ini berhembus seperti biasanya, dan kita sudah biasa mengalami ini, bukan? Kalau bukan kencing dan sakit perut, pastinya rasa lelah yang datang dari kejenuhan saban hari yang melanda. Akhirnya, berbaring di tempat kita duduk lah yang menjadi pilihan hingga kekuatan untuk melawan kemalasan mendorong kita untuk beranjak dari tempat ini, atau berpindah ke persoalan lain yang bisa diperbincangkan.
Ini memang menjadi soal yang tidak habis-habisnya untuk kita bicarakan. Aku sadar, memang sangat menyedihkan kita sekarang ini. Tidak bisa melakukan apa-apa seperti orang-orang yang sudah-sudah. Seperti yang kita simpulkan beberapa hari yang lalu bahwa kita hanya sibuk dengan wacana-wacana, mansturbasi intelektual tanpa ada aksi yang menarik untuk dilakukan. Ya, aku mengerti bahwa masing-masing dari kita sesungguhnya memiliki kegiatan yang sangat berguna bagi siapa saja. Akan tetapi itu hanya persoalan kesibukan sendiri, tanpa melibatkan kita semua yang memiliki kebiasaan duduk berlama-lama di sini. Yang aku persoalkan itu adalah kita, bukan yang lain. Bukan yang lain!
Aku pernah berpikir dan membayangkan, serta bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah orang-orang yang dulu sibuk mempersiapkan penundukan bebera jam atas Yogyakarta juga melakukan hal yang sama seperti kita sekarang ini?
Tentunya itu berbeda dengan situasi sekitar seratus tahun yang lalu. Aku tidak memiliki dugaan sedikit pun kalau misalnya Minke dan kawan-kawannya dari STOVIA melakukan hal yang serupa dengan kita, duduk berlama-lama, minum kopi dan merokok. Mereka golongan priyayi. Lagipula, sebagian besar kawan-kawan Minke yang hadir terlalu terpesona dengan Bunga Akhir Abad sementara Minke sendiri harus berhadapan dengan seorang sinkeh yang tertarik dengan gambar diri mendiang isterinya.
Sedangkan mereka yang sangat bersemangat berkumpul sambil menghisap berbatang-batang rokok kretek di sebuah rumah, aku rasa, memiliki kesamaan dengan kita sekarang ini. Bedanya, penggambaran Enam Jam di Jogja oleh Usmar Ismail itu sedikit penuh romantisme kemerdekaan yang baru berselang beberapa waktu, dan mereka memiliki tujuan untuk dicapai (selain tampilan hitam putih dan suara yang tidak jernih, tentunya), yaitu mempertahankan kemerdekaan. Kalau kita, seperti yang kita sepakati bersama, kita tidak memiliki tujuan apa-apa (atau lebih tepatnya, tidak ada pendoronng dan perangsang) sehingga tujuan kita duduk berlama-lama di sini tak lebih dari membuka wacana, mengaso total, menghilangkan penat atau sekedar mencari kegiatan dari pada tidak melakukan apa-apa di rumah. Bertemu dengan teman sejawat lebih menyasikkan daripada berdiam diri sendiri di dalam kamar.
Baiklan, aku mengakui bahwa di antara kita, hanya aku yang tertarik dengan filem. Akan tetapi kalau persoalan buku-buku yang tebal, tentunya bukan aku saja, kan? Dan memang benar, bukan cuma aku yang mengagumi kecantikan Annelies dan menertawakan betapa mesumnya anak muda yang baru tumbuh menjadi dewasa itu, yang lain juga sudah membacanya. Iya kan, Bang? Terimakasih sudah mau mendukungku dari keluhan-keluhan. Aku sarankan kau juga harus membaca lanjutannya, benar-benar buku yang menarik. Sekarang ini aku sedang membaca buku yang ketiga, dan aku selalu bergetar ketika menyimak setiap untaian kata dari salah satu tokoh sastra kenamaan bangsa ini.
Mengapa kita tidak ada tujuan dan hanya sibuk dengan wacana saja? Beberapa kali aku bertanya dengan aktivis sepantaran kita tentang dilema anak muda hari ini. Banyak dari mereka yang menjawab bahwa yang menjadi penghambat gerak kita adalah ketidakadaan musuh bersama. Orang-orang dulu bergerak karena ada tekanan yang dirasakan bersama oleh satu musuh. Sekarang ini, siapa musuh kita?
Mungkin ada baiknya aku menceritakan sebuah pengalaman yang aku dapat di Stasiun Tanjung Barat, ketika menemani seseorang menuju Kineforum untuk menonton sebuah filem.
“Jakarta 66, alumni kau, itu!” celetuknya. “Kuning, serba kuning!”
“Oh, ya?” aku berseru karena tidak tahu apa-apa tentang filem yang akan kami tonton.
Berawal dari celetukannya tentang filem itu, perbincangan kami menuju satu isu tentang pergerakan mahasiswa yang sudah sangat jauh ditinggalkan rasa takjub oleh khalayak. Kereta belum lagi datang, masih di Bojong, sehingga aku memiliki waktu banyak untuk menanyakan beberapa soal padanya, termasuk tentang jawaban dan keluhan dari teman-teman yang menjadi aktivis kampus.
“Siapa bilang kalian tidak punya musuh bersama?” kata teman perjalananku itu. “Padahal, musuh kalian sekarang ini lebih garang dari pada yang sudah-sudah.”
“Siapa musuh kami dan yang harus kami perangi?” tanyaku.
“Apa yang membuatmu begitu tergantung dengan barang-barang konsumsi?” dia balik bertanya. “Tidak lain dari sebuah sistem yang sering kalian persalahkan itu, yang kini menjadi panutan di negara-negara barat. Itu kan musuh yang sangat nyata! Kau sering mendecakkan lidah karena biaya kuliah begitu mahal, apa itu tidak musuh?”
“Tapi maksudku bukan itu,” sanggahku. “itu terlalu abstrak, tidak jelas. Berbeda dengan tahun 90-an, mereka melawan orang yang berkuasa, bertangan besi, yang jelas-jelas dapat terlihat dan dirasa, sehingga menjadi perangsang untuk menggerakkan pemuda.”
“Ya, kan tidak mungkin jika pada setiap fase itu, si tokoh utama harus melawan bentuk musuh yang sama tingkatannya. Ketika fase berkembang, kekuatan musuh yang harus dilawan tentunya harus lebih sulit dari yang sebelumnya. Tidak lain musuh kalian sekarang ini adalah sistem. Bagaimana caranya kita harus berada di atas sistem itu, kita yang memegang kendali, bukan yang lain.”
Itu jawaban yang aku dapatkan dari dia, lebih kurang begitu. Aku lupa apa kalimat pasti yang keluar dari mulutnya, karena peristiwa itu sudah sangat lama berlalu. Intinya, kita masih memiliki sesuatu yang harus dilawan, meskipun itu tidak jelas bentuk dan keberadaannya.
Lalu mengapa kita masih terjebak dalam wacana-wacana saja? Seperti yang kita istilahkan, terlalu asyik dengan mansturbasi intelektual semata. Lebih sering, kita hanya menyampah dan mengeluhkan orang-orang lain yang kita anggap melakukan hal yang cuma-cuma. Padahal apa yang mereka lakukan lebih baik dari kita sekarang ini yang hanya termangu bergosip dan mengumpat-umpat.
Lagipula, kalau dipikir-pikir, mengapa kita harus menunggu ada musuh dulu baru bergerak? Kita bukan berada di dalam perang, bukan? Yang terpenting adalah kita bergerak untuk melakukan sesuatu, untuk menghasilkan sesuatu, yang dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain dan bagi bangsa ini. Sungguh sangat aneh jika kita malah meminta-minta musuh ketika tidak perlu ada musuh.
Sekarang coba kita sedikit merenung tentang kebiasaan kita sekarang ini! Kita berhenti hanya pada kebiasaan duduk berlama-lama, terlalu asyik dengan wacana-wacana, tanpa aksi. Kita terkungkung dalam kemalasan dan kebuntuan ide. Kita tidak kreatif, tidak pula inovatif, dan sama sekali tidak memiliki inisiatif. Aku rasa, ini lah musuh kita yang sesungguhnya. Melawan kebuntuan itu. Aku tidak mau kita menjadi kelompok anak muda yang tidak memiliki apa pun untuk dibanggakan. Aku ingin bergerak, melakukan sesuatu. Dan bahwasanya, yang pertama-tama harus kita lawan adalah rasa malas ini, keterkungkungan pada wacana ini, mansturbasi intelektual yang berlebihan ini. Bagaimana pun caranya, kita harus bisa menemukan sesuatu untuk dilakukan, diterapkan pada tindakan yang nyata, meskipun itu hanya sekecil-kecilnya. Itu sangat jelas merupakan hal yang harus kita lakukan dalam waktu dekat.
Namun (aku baru saja tersadar), mungkin ini kutukan untuk kita semua. Kutukan bagi generasi kita! Karena aku memiliki firasat bahwa apa yang sedang kita perbincangkan saat ini, pada akhirnya, hanya menjadi sekedar wacana saja. Aku sudah mulai menduga-duga (juga sedikit merasa cemas menyadari kenyataan bahwa kita tidak akan pernah beranjak dari kebuntuan ini) bahwa bujuk rayu yang baru saja aku sampaikan untuk melawan kemalasan dan kebuntuan kita itu hanya tinggal menjadi wacana. Alhasil, ini hanya menjadi bahan obrolan untuk menemani kebiasaan duduk kita. Mungkin, besok kita tidak akan melakukan apa-apa selain kembali ke sini, duduk berlama-lama lagi, merokok berbungkus-bungkus kretek lagi, dan minum kopi bergelas-gelas lagi. Ah, sungguh menyedihkan sekali kita.
Ya sudahlah, mungkin memang kita membutuhkan sebotol atau dua botol bir untuk menghilangkan rasa sesal karena hidup di jaman yang membosankan ini. Ayo, kita patungan, siapa yang akan berangkat untuk membeli?/buklethapmas

Twitter Follow our tweets!
marxist Marxist Indonesia
Facebook Add our facebook!
KiriMahasiswa Revolusioner
Karbon Journal
Volume IMahasiswa Baru