Teras

My Photo
buklethapmas
Melihat orang bertingkah aneh dan bodoh itu menyenangkan; hiburan yang tak ternilai. Menyampahi dan mengkritik menjadi bumbu penyedap. Setidaknya, hal itu menjadi pelampiasan dan penghilang rasa kebosanan di tengah-tengah ketidakgerakan dan keluhan dari mulut-mulut orang yang tidak berbuat apa-apa. Daripada menderita sendiri karena kesadaran yang memuakkan ini, lebih baik menikmati semati-matinya, keluarkan semua umpatan ketidaksenangan itu! Umpat kami, kami umpat pula kalian! "Ayo kita mengangkat wacana sampah, umpat-mengumpat, dan kritik omong kosong!"
View my complete profile

Blog

08 July, 2011

Sebuah Pengantar


Pertama, buklethapmas ini bukan media pers. Kedua, media baca ini tidak ingin terikat dengan aturan-aturan memuakkan tentang sajian yang baik dalam tulisan. Ketiga, buklethapmas tidak mengharapkan puji-puja, melainkan umpatan dan kritk balik. Keempat, tulisan ini memang bertujuan untuk memancing ‘peperangan’. Kelima, kami adalah orang-orang yang tidak berani muncul ke permukaan, dan lebih memilih mencela dan mengumpat melalui tulisan. Keenam, tulisan ini mungkin akan menyinggung beberapa pihak. Dan terakhir, tulisan ini akan menyajikan fokus yang melebar ke mana-mana. 

Di lingkungan sekitar kita ada banyak sampah. Bukan hanya berupa barang-barang yang terbuang, tetapi juga wacana-wacana yang sudah tidak menarik lagi untuk diperbincangkan, atau wacana-wacana yang memang seharusnya tidak perlu dipanjang-panjangkan untuk dibahas. 

Ini menarik. Pada wacana sampah itu kita memiliki kebebasan; mengumpat, mengkritik, dan mengeluh. 

*** 

Beberapa hari yang lalu, terdengar kabar tentang rencana-rencana dari orang-orang berkepentingan di kampus FISIP UI untuk mengobrak-abrik harapan para mahasiswa yang sudah bisa menghongkangkan kakinya di meja tongkrongan: mulai dari sudut tangga, musholla, hingga meja Takor. Orang-orang berkepentingan itu adalah MAHALUM. Soal yang menjadi pemicu adalah tentang penyambutan mahasiswa baru yang akan masuk ke lingkungan kampus. Terjadi perdebatan yang tidak mengasyikkan antara para anggota BPM dengan MAHALUM itu, mungkin juga akan melibatkan BEM. Dan apa yang diperdebatkan, mungkin untuk sementara ini kita simpan saja menjadi stok kabar-kabar sampah selanjutnya. 

Bulan Agustus, katanya, kita akan dilayani oleh liputan berita dari pers-nya anak UI, Gerbatama (Suara Mahasiswa) tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah mahasiswa baru ini. Dan coba tebak, apa yang menjadi tema utama mereka? Paling-paling hanya soal biaya kuliah, tentang BOP B, yang memang selalu menjadi bahasan krusial bagi semua orang-orang yang berkepentingan, karena ini soal pendidikan yang semakin mahal harganya.. Itu sudah menjadi wacana sampah, tetapi tetap dianggap sebagai bahasan yang menarik. Bukan hanya pers, badan eksekutif pun ikut-ikutan tak ketinggalan untuk memperlihatkan kepeduliannya dengan persoalan ini. Berikut kutipan dari salah sebuah status facebook miliki BEM FISIP UI, pada tanggal 8 Juli 2011: 

“PENGUMUMAN: Pengajuan banding alias keringanan atas BOP-B yang telah diumumkan hanya terbatas sampai besok. Apabila lewat dari tanggal 9 juli pukul 23:59 besok, pengajuan banding tidak bisa diurus lagi. Dalam pengajuan ini juga harus disertai dengan bukti baru. Jika tidak ada bukti yang disertakan maka pengajuan pertanyaan tidak akan muncul sehingga tidak bisa diproses.” (http://www.facebook.com/bem.fisip.ui

Semakin rumit, semakin rumit, dan semakin rumit saja persoalannya. Selain itu, persoalan ‘ketakutan’ mahasiswa baru terhadap momok ospek juga dapat menjadi bahasan yang menarik. Setidaknya, kita tidak menjadi bosan dengan suguhan tema yang sedari dulu dibahas secara berulang-ulang: pendidikan yang diperdagangkan. 

Ayolah, terima saja kenyataan itu, bahwa para teknokrat, aristokrat, dan dosen-krat, departemen-krat, rektorat-krat dan pejabat-krat di sana memang sudah keranjingan sama yang namanya uang! Mereka sudah seperti pejabat-pejabat gelap mata, sudah seperti pengusaha yang buta laba, bahkan pendidikan yang menjadi kebutuhan semua orang pun dijadikan lahan usaha. Alhasil, bosan juga persoalan itu berkali-kali menjadi tema yang diputar balik, diutak-atik, dalam media pers mahasiswa yang, sama-sekali, tidak dapat memberikan efek apa-apa. Semuanya menjadi tahik kucing. 

Intinya, beberapa waktu ke depan, hingga akhir bulan Bulan Oktober 2011, persoalan mahasiswa baru ini akan menjadi wacana-wacana sampah yang selalu menarik untuk di bahas; dan itu terjadi setiap tahunnya. Cuek saja lah, kalau misalnya ada yang mengeluh (karena jika ada keluhan dari pihak lain juga tak masalah) bahwa lagi-lagi media baca ini membahas wacana-wacana sampah tentang mahasiswa baru, sementara mahasiswa di tempat lain sudah sibuk melakukan inovasi untuk kemajuan. Karena sudah disebutkan, kalau media ini memang 'sampah' dan bentuk pelampiasan kemuakan. /buklethapmas




buklethapmas Designed by buklethapmas (ↄ) 2011