Teras

My Photo
buklethapmas
Melihat orang bertingkah aneh dan bodoh itu menyenangkan; hiburan yang tak ternilai. Menyampahi dan mengkritik menjadi bumbu penyedap. Setidaknya, hal itu menjadi pelampiasan dan penghilang rasa kebosanan di tengah-tengah ketidakgerakan dan keluhan dari mulut-mulut orang yang tidak berbuat apa-apa. Daripada menderita sendiri karena kesadaran yang memuakkan ini, lebih baik menikmati semati-matinya, keluarkan semua umpatan ketidaksenangan itu! Umpat kami, kami umpat pula kalian! "Ayo kita mengangkat wacana sampah, umpat-mengumpat, dan kritik omong kosong!"
View my complete profile

Blog

16 September, 2011

Gerak serentak antara yang di lembaran dan yang di layar

Kata seorang profesor, media di waktu sekarang sudah terlalu canggih! Tak mampu lagi bagi kita, generasi sekarang yang buntu imajinasi, untuk menggambarkan cairnya media dalam beragam bentuk dan cara: dari yang tintanya dawat hingga tintanya elektronik. Mungkin, generasi setelah kita, yang apabila berhasil meruntuhkan tembok kebuntuan itu, dapat memberikan gambaran detil tentang fenomena media-media yang mutakhir tersebut. Saat ini tugas kita adalah lebih kepada meningkatkan kesadaran akan keganasan limpahan berita dari berbagai media online (contohnya, lihat saja twitter dan detik.com, dengan adanya dua media ini saja, bahkan kita tak sempat memilah kabar karena setiap detik kabar baru yang lain bermunculan).

Ada banyak mahasiswa, akhir-akhir ini, atau anak muda yang lainnya, seringkali membubuhkan opini, data dan fakta, naskah pidato dan orasi, dan aksi-aksi propaganda lainnya melalui media maya alias internet itu. Memang, media yang satu ini bergerak cepat (kita masih ingat bagaimana gerakan satu juta facebooker dan sebagainya dalam mengkritik kebijakan pemerintah). Namun demikian, Buklethapmas merasa cara seperti ini belum mampu untuk membangkitkan gairah romantisasi dari gerakan menggunakan media itu sendiri. Bukan soal cepat atau lambat, tetapi bagaimana menikmati tindakan-tindakan menggelitik pemikiran pihak lain itu dengan cara yang mengasyikkan untuk disaksikan secara langsung, riil dengan mata kepala sendiri, bukan melalui perantara dunia maya.

Atas dasar alasan itu lah, Buklethapmas kembali ke media konvensional (dengan materi konkret yang bisa digenggam dan berjarak lebih dekat). Dengan demikian, Buklethapmas edisi cetak dalam bentuk lembaran kertas A4 diciptakan.

Namun begitu, kita tidak memungkiri kecanggihan dunia maya alias internet ini. Karena keterbatasan finansial dari Buklethapmas sendiri (yang pada hari pertama hanya mampu mengeluarkan 100 eksemplar―dan itu pun habis terbuang dan tercecer di lantai lingkungan kampus, tanpa ada kepastian telah dibaca atau tidak oleh warga kampus), kami tetap mendayagunakan media online ini untuk melakukan distribusi secara cuma-cuma.

Pembaca dapat mengunduh file dari terbitan edisi kertas yang telah disebarkan di lingkungan kampus FISIP UI pada hari Kamis, tanggal 15 September 2011 lalu. Selamat membaca dan silakan sebarkan untuk kepentingan gerakan "menghidupkan kembali budaya membaca dan perang wacana".

[Link unduhan]

buklethapmas Designed by buklethapmas (ↄ) 2011